Inovasi Pelaku Usaha Masih Belum Maksimal

TANJUNG SELOR – Dalam membangun ekonomi kreatif di Bumi Benuanta—sebutan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), para pelaku usaha dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan informasi sebagai dasar membangun ide dan kreativitas. Namun sampai saat ini, hal tersebut masih belum maksimal karena mindset masyarakat terhadap program pelatihan yang diberikan oleh pemerintah masih bersifat konvensional.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltara Arifuddin menjelaskan, sampai saat ini ada tiga bidang usaha yang dinilai belum maksimal dalam mengikuti perkembangan informasi terkini terkait usahanya. Seperti bidang makanan, kerajinan tangan dan meubelair. Hal tersebut 

 menyebabkan kuantitas produksi pelaku usaha masih belum maksimal. Sehingga mempengaruhi nilai jual dan pangsa pasar di level nasional. “Inovasi pelaku usaha baik bidang makanan, kerajinan tangan dan meubel masih minim.Pasar mereka belum bisa maksimal beredar di level nasional,” jelas Arifuddin.

Dia menyebutkan, untuk bidang usaha makanan selama ini kreativitas dan inovasi yang muncul mayoritas. Karena didorong oleh Disperindagkop melalui program pelatihan dan pameran. Yang mejadi permasalahan, kata Arifuddin, adalah program tersebut yang memiliki skala waktu panjang belum maksimal mendapat umpan balik dari pelaku usaha. Hal ini menyebabkan banyak sebenarnya inovasi berkualitas yang harus padam di tengah jalan. “Kreativitas dan inovasi yang selama ini muncul mayoritas karena kami gerakkan, namun apabila mereka kurang proaktif sulit juga bagi kami,” terang Arifuddin.
Hal serupa juga disampaikan Arifuddin terdapat di usaha kerajinan tangan dan meubel. Di mana mereka seharusnya mampu mengambil pelajaran dari pelatihan sebagai dasar memodifikasi variasi produksinya. Agar memiliki ciri khas yang menjadi nilai jual sendiri di masyarakat.
“Untuk meubel dan kerajinan tangan juga secara umum sama, padahal tidak jarang kami datangkan ahli yang berkompeten untuk menerangkan kriteria beberapa pangsa pasar,” beber Arifuddin.
Dia mengatakan, minimnya kreativitas dan inovasi pelaku usaha yang saat ini terjadi disebabkan akses informasi dari dunia luar untuk mendukung kegiatan masih terbatas, terutama bagi mereka yang masih kesulitan mendapat jaringan telekomunikasi atau memang tidak ingin bersentuhan dengan duni digital. Hal tersebut menyebabkan mereka tidak bisa mengikuti perkembangan kriteria ataupun jenis usaha yang sedang banyak diinginkan konsumen. Baik dari dalam ataupun luar Kaltara. “Permasalahan terbesar karena akses informasi disini cenderung sulit. Jadi sulit untuk mereka untuk mereka melihat perkembangan,” ujarnya.
Arifuddin menambahkan, untuk mengatasi masalah ini yang lebih diutamakan adalah bagaiman mendorong minat pelaku usaha dan merubah pola pikir mereka. Biasanya upaya upaya tersebut dimasukkan dalam program pelatihan. Sehingga mereka terpacu mengadakan evaluasi kegiatan usahanya. “Kalau untuk pelatihan, pendampingan dan pameran kita sudah rutin, tapi kita akan coba untuk lebih memotivasi mereka melalui kegiatan kegiatan tersebut,” tutupnya.