Komoditas Ikan Beku Kaltara Dilirik Asing

TANJUNG SELOR – Komoditas ikan beku dan manufaktur di Kaltara tengah dilirik pasar Internasional. Berdasarkan catatan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UKM Kaltara, tahun lalu ekspor ikan beku sebesar USD 791,147,41 sedangkan manufaktur senilai USD 899,6771,65.

“Kedua komiditas ini sangat diminati beberapa negara, yakni Arab Saudi, Cina, Rusia serta Malaysia,” sebut Pelaksana tugas Kepala Disperindagkop dan UKM Kaltara, Hartono melalui Kabid Perdagangan Luar Negeri Robby Hatman kepada Bulungan Post, kamis (13/4) lalu.

Dijelaskannya, secara umum nilai ekspor di Kaltara menurun dari USD 773.261.888.14 menjadi USD 689.690.914.63. Hal itu disebabkan, komoditas yang memiliki skala besar seperti batu bara dan CPO Kelapa sawit mengalami penurunan.

Sedangkan dua komoditas lainnya seperti udang beku dan kayu olahan mengalami peningkatan. Yakni Ekspor udang beku sebesar USD 71.668.054.79 menjadi USD 78.663.719.02. Sementara kayu olahan dari USD 9.413.276.87 menjadi USD 10.773,669,87.

“Dari komoditas yang mengalami penurunan memang berada di batu bara dan CPO. Namun untuk komoditas lainnya mengalami peningkatan,” kata dia.

Namun demikian, diakuinya, untuk saat ini harga batu bara dan CPO kelapa sawit masih belum begitu stabil, sehingga berimplikasi pada hasil produksi ekspor yang ada di Kaltara. “Tapi bagaimana upaya untuk meningkatkan, kami kembali kepada kebijakan masing-masing eksportir itu sendiri,” katanya.

Sementara dari sisi kebijakan dan regulasi terhadap ekspor, kata dia, selama ini selalu memberikan fasiitas. Seperti surat keterangan asal (SKA). “Itu selalu kami fasilitasi, karena memang sudah mejadi standarisasi dalam ekspor,” ungkap Hartono.

Ia juga menambahkan, yang menghasilkan eksport di Kaltara mayoritas berasa dari Tarakan. Secara rinci, komoditas manufaktur seperti industri kimia, keramik, semen dan lain-lainnya. “Rata-rata yang mengirim ke luar negeri dari pengusaha Tarakan,” katanya. (san/har)